Selasa, 25 Februari 2014

Aku masih gadis cilik ayah yang belum bisa menepati janji

memikirkanmu sudah menjadi bagian dari hidupku untuk empat tahun ini. "sedang apa kamu?", "sudah berapa batang rokok yang kamu habiskan hari ini?", "bagaimana kuliahmu?", "bagaimana keadaanmu, sehat?". dan semua pertanyaan-pertanyaan lain yang membuatku terlihat mengkhawatirkanmu.
Kesempatan memiliki dan menjadi pendampingmu sudah hilang sejak beberapa hari keta saling mengenal. tapi bagiku kesempatan bisa datang lebih dari dua kali. aku pernah berjanji akan melupakanmu saat Tuhan mempertemukan kita dengan cara yang kuinginkan. Nyatanya setiap kali kita bertemu dengan cara yang ku inginkan, aku selalu mengingkari janjiku.
kaca cermin di warung makan waktu itu, cukup membuktikan kita saling memiliki rasa. hanya situasinya saja yang tidak pernah sejalan. Tanggal 17 Desember 2013, Tuhan mendengar pintaku. melihatmu duduk dengannya yang saat ini berhasil menaklukan hati mu. dalam waktu 10 menit aku bisa bersikap seolah baik-baik saja dan tidak mengenal mu. namun, saat keluar gedung aku tau mata kita sama-sama ingin menyapa. itu semakin membuatku ingin ingkar janji.