Minggu, 17 Februari 2013

Untuk apapun sebutan mama

Dalam dingin ku, ada peluk mu
Dalam bingung ku, ada bimbing mu
Dalam resah ku, ada genggam mu
Dalam tangis ku, ada hibur mu

Ada banyak tawa ketika ku lahir dengan tangis ku yang nyaring
Ada banyak kecup, tapi hanya kecup mu yang paling mesra
Ada banyak peluk, tapi hanya pelukmu yang paling hangat

Mengajari ku cara mengucap A I U E O
Mengajari ku memahami B C D dan kawan-kawan
Dari huruf menjadi kata, dari kata menjadi kalimat
Hingga akhirnya ku bisa menjamah paragraf

Mengajariku cara membidik teman
Mengenal teman, dan menjadikannya sahabat
Bagiku dia atau mereka ta bisa jadi sahabat seperti mu

Memandangmu memasukan bersuap-suap nasi kemulut ku
Tanpa ku lihat sesuappun masuk kemulut mu
Serasa menyadarkan ku saat ini, bisakah aku seperti mu kelak

warasku


Perempuan tidak waras yang mencoba membangunkan jiwanya untuk tetap waras.
Sampai tiba hujan hujatan menghantam jiwa rapuhnya, Mencoba tetap terlihat waras.. hanya ingin tetap dihargai sebagai perempuan waras, dengan segala ketidak warasannya. Ini hanya batu krikil, dia yakin jalan di depan sana masih banyak timpukan keras yang siap menembus batas kewarasannya. Dia tau mana yang baik, dia tau ini itu yang tidak baik, hanya saja dia sedang terlepas dari rotasi kewarasannya. Tuhan sedang membiarkanya mencari kewarasaannya sendiri, dan sesekali diberi air ketenangan agar kelak bangun dari ketidakwarasannya dia tau Tuhan ada untuk menjaganya. Menjadi waras adalah harapan kenapa dia tidak memutus urat nadinya. Bukan berbicara tentang sesuatu yang berlebihan, tetapi perjuangan menjadi waras jauh lebih berat dari belajar menjadi tidak waras. Kita tau dunia ini penuh dengan orang yang bermain dengan permainan peran. Orang waras bermain menjadi tidak waras itu mudah, tapi orang tidak waras belajar melepas diri dari ketidak warasan sangat sulit. Jangan pernah membuatnya semakin tidak waras.

Warasku mengajari untuk jadi orang baik tanpa cacat dan ego. Bukan sekedar membungkuk senyum tapi tertawa lirih saat berpapas dengan mereka pemain pertunjukan dunia. Kadang waras ini ingin ku lepas, menimpuk keras pada layar pendamping papan tombol yang terlihat akrab. Aku hanya ingin memulai jadi si bijak yang tenang menyelesaikan masalah. Kali ini saja aku mohon kembalikan layar pendamping tombol ku kekeadaan seperti semula, sebelum aku mengabaikannya sepekan lalu. Warasku mulai memihak pergi jauh dari batas rotasi yang limit.