Rabu, 30 Maret 2016

Dibuang sayang, ngangenin










Setengah



Aku masih anak gadis mama yang belum mampu mencapai mimpinya untuk membahagiakan orang tua sampai hari di saat tulisan ini dibuat (19 Februari 2016, 10.53pm). Masih anak gadis yang belum bisa menentukan pilihan dalam hidup, masih manja, cengeng dan tukang ngambek. Bahkan tidak ada hal yang bisa dibanggakan.

Dua tahun pascalulus dengan gelar sarjana belum sekalipun aku menghasilkan materi yang bisa membanggakan. Hati kecilku berharap aku masih punya banyak kesempatan dapat melihat orang tuaku bahagia dengan penuh kebanggaan dari semua hal yang kulakukan dan dari usahaku yang selalu mereka doakan dan semua untuk mereka yang selalu ada untukku.
Terimakasih sebanyak yang ada di dunia ini tidak mampu mewakili terimakasih yang ingin kusampaikan padamu mama. Dan maaf sebanyak yang ada di dunia ini tidak mampu mewakili permohonan maaf yang ingin kuucapkan…

Aku masih anak gadis bapa yang perlu dikuatkan, perlu didukung dan perlu didekap saat takut. “Ada banyak cerita yang bahkan terlewat hanya karena kita jarang bertemu pa.. tapi rasa sayang yang kita miliki tidak pernah lewat tanpa menghampirimu”. saat semua beban terasa sempit satu dari sekian banyak orang di dekatku termasuk mama tapi hanya bapa yang mengungkapkan isi hatinya, mendukung apapun keputusan yang akan ku ambil. Meski ada kalanya kami berdebat banyak hal karena isi kepala selalu berbeda. 

Selalu ada keinginan melihat binar bahagia yang sama seperti sopir angkot yang tadi pagi mengajakku bercerita soal kesuksesan anak-anaknya. Akupun ingin melihat bapaku bahagia dan bangga dengan usahaku kelak, dan tidak lagi bekerja, sudah saatnya aku jadi anak yang berguna. Nyatanya sampai hari ini usahaku belum membuahkan hasil.

Terimakasih sebanyak yang ada di dunia ini tidak mampu mewakili terimakasih yang ingin kusampaikan padamu bapa. Dan maaf sebanyak yang ada di dunia ini tidak mampu mewakili permohonan maaf yang ingin kuucapkan.

Aku masih kakak, adik dan teman bagi adikku satu-satunya yang paling tampan katanya,..

Aku pernah membaca coretan tangannya saat dia masih kecil, terselip kata-kata yang menunjukkan bahwa dia bangga menjadi adikku, aku selalu membuatnya terkesan dengan segala hal yang kulakukan yang belum bisa dia lalukan. Ada keinginan menjadi kebangganmu sampai kapanpun. 

Aku selalu ingin menjadi kakak, adik, dan teman untukmu. Menasehatimu dengan kalimat logis yang membantumu, dan meminjam pudakmu saat beban hidup terasa berat meski aku tau bau keringatmu sungguh menusuk.


Terimakasih sebanyak yang ada di dunia ini tidak mampu mewakili terimakasih yang ingin kusampaikan padamu mas. Dan maaf sebanyak yang ada di dunia ini tidak mampu mewakili permohonan maaf yang ingin kuucapkan.